Selasa, 07 Februari 2017

ilmu dan adab


Ilmu tampa adab ibarat pohon tampa buah, Adab tampa ilmu ibarat orang yang berjalan tampa petunjuk arah. Dengan demikian, ilmu dan adab harus bersinergi, tidak boleh dipisah-pisahkan.Berilmu tampa adab adalah dimurkai (al-maghdhubi alaihim),sementara beradab tampa ilmu adalah kesesatan (al-dhalim).

Ibnu Qosim  murid dari Imam Malik juga pernah menyampaikan, " Aku telah mengabdi kepada Imam Malik  selama  20 tahun. Dari masa itu, 18 tahun aku mempelajari  adab.Sedang sisanya  dua tahun untuk belajar ilmu."
( Tanbih Al mughtarrin, hal.12)

Murid lain dari Imam  Malik, Nafi' bin Abdullah juga  telah  bermalas bersama  Imam Malik  selama 35 tahun ( Hilyah Al Auliya,  6/320)

Al'aalimu hayyun  wa in kana mayyitan, Wal jahilu mayyitun  wa in Kaana  hayyan : Orang yang berilmu akan terus hidup  dengan  ilmunya yang dimanfaatkan oleh masyarakat, meskipun ia sudah meninggal dunia. Tatapi orang bodoh layaknya orang mati yang meski Hidup tidak dapat memberi manfaat.


Ilmu adalah kekuasaan yang tidak lepas dari pemiliknya. Ia juga pakaiann  yang keindahannya tidak pernah luntur. Seseorang yang memiliki kekuasaan sebesar apapun, apabila keluar dari wilayah kekuasaanya menuju tempat lain maka kekuasaanya langsung hilang dan statusnya langsung menjadi orang biasa. Hal ini berbeda dengan orang yang berilmu kehormatanya dirinya selalu mengikuti kemana saja ia pergi dan senantiasa abadi sepanjang masa

Al-Hasan  Al-Bashri berkata," Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan ( omong belaka).Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap di dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat," 

Tarbiyah Amaliah : Praktek mengajar

Tidak pernah merasa cukup dan bersifat iri bukanlah termasuk ahlak dari seorang muk,min kecualai dalam hal mencari ilmu ( HR. Baihaqi dari Mu,adz)

Ilmu adalah harta karun yang senantiasa bermanfaat disegala situasi

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda